Rabu, 06 Mei 2015

Asuhan Keperawatan Pasien Vertigo

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Vertigo merupakan kasus yang sering ditemui. Secara tidak langsung kitapun pernah mengami vertigo ini. Kata vertigo berasal dari bahasa Yunani “vertere” yang artinya memutar. Vertigo termasuk kedalam gangguan keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyangan, rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. Kasus vertigo di Amerika  adalah 64 orang tiap 100.000, dengan presentasi wanita lebih banyak daripada pria. Vertigo juga lebih sering terdapat pada Usia yang lebih tua yaitu diatas 50 tahun.
Vertigo merupakan salah satu kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari kejadian atau trauma lain. Misalnya adanya cidera kepala ringan. Salah satu akibat dari kejadian atau trauma tersebut ialah seseorang akan mengalami vertigo. Kasus ini sebaiknya harus segera ditangani, karena jika dibiarkan begitu saja akan menggangu system lain yang ada di tubuh dan juga sangat merugikan klien karena rasa sakit atau pusing yang begitu hebat. Terkadang klien dengan vertigo ini sulit untuk membuka mata karena rasa pusing seperti terputar-putar. Ini disebabkan karena terjadi ketidakseimbangan atau gangguan orientasi.  
Oleh karena itu, pembelajaran mengenai vertigo beserta asuhan keperawatannya dirasa sangat penting dan perlu. Dengan memiliki pengetahuan yang baik beserta pemberian asuhan keperawatan  yang benar, maka diharapkan agar kasus vertigo ini dapat berkurang dan masyarakat bisa mengetahui akan kasus vertigo ini dan bisa mengantisipati akan hal tersebut.
B.     Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan laporan pendahuluan tentang vertigo ini adalah agar mahasiswa mampu secara kognitif, afektif serta motorik dalam menyusun asuhan keperawatan  pada klien vertigo. Dengan demikian, mahasiswa bisa menerapkan asuhan keperawaan yang sudah dibuat secara komprehensif sehingga dapat membantu proses penyembuhan klien secara tepat dan cepat.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Definisi 
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau gangguan orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integrasi berbagai sistem diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato sensorik (propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Pada vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata. (Lumban Tobing. S.M, 2003) 
Vertigo dapat adalah salah satu bentuk gangguan keseimbangan dalam telinga bagian dalam sehingga menyebabkan penderita merasa pusing dalam artian keadaan atau ruang di sekelilingnya menjadi serasa 'berputar' ataupun melayang. Vertigo menunjukkan ketidakseimbangan dalam tonus vestibular. Hal ini dapat terjadi akibat hilangnya masukan perifer yang disebabkan oleh kerusakan pada labirin dan saraf vestibular atau juga dapat disebabkan oleh kerusakan unilateral dari sel inti vestibular atau aktivitas vestibulocerebellar.
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala, penderita merasakan benda-benda disekitarnya bergerak gerak memutar atau bergerak naik turun karena gangguan pada sistem keseimbangan. (Arsyad Soepardi efiaty dan Nurbaiti, 2002)
B.     Etiologi
1.      Otologi 24-61% kasus
a)      Benigna Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
b)      Meniere Desease
c)      Parese N VIII Uni/bilateral
d)     Otitis Media
2.      Neurologik  23-30% kasus
a)      Gangguan serebrovaskuler batang otak/ serebelum
b)      Ataksia karena neuropati
c)      Gangguan visus
d)     Gangguan serebelum
e)      Gangguan sirkulasi LCS
f)       Multiple sklerosis
g)      Vertigo servikal
3.      Interna kurang lebih 33% karena gangguan kardiovaskuler
a)      Tekanan darah naik turun
b)      Aritmia kordis
c)      Penyakit koroner
d)     Infeksi
e)       <  glikemia
f)       Intoksikasi Obat: Nifedipin, Benzodiazepin, Xanax,
4.      . Psikiatrik > 50% kasus
a)      Depresi
b)      Fobia
c)      Anxietas
d)     Psikosomatis
5.      Fisiologik
Melihat turun dari ketinggian.
C.    Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis pada klien dengan vertigo yaitu Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.
Pasien Vertigo akan mengeluh jika posisi kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala digerakkan ke belakang. Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang disertai rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas.Penderita biasanya dapat mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun.
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada perubahan posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak ada paresis kanal.
Uji posisi dapat membantu mendiagnosa vertigo, yang paling baik adalah dengan melakukan manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan nistagmus posisi dengan gejala :
1.      Penderita vertigo akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik dirinya sendiri atau lingkungan
2.      Merasakan mual yang luar biasa
3.      Sering muntah sebagai akibat dari rasa mual
4.      Gerakan mata yang abnormal
5.      Tiba - tiba muncul keringat dingin
6.      Telinga sering terasa berdenging
7.      Mengalami kesulitan bicara
8.      Mengalami kesulitan berjalan karena merasakan sensasi gerakan berputar
9.      Pada keadaan tertentu, penderita juga bisa mengalami ganguuan penglihatan
(http://perawatyulius.blogspot.com)
D.    Komplikasi
1.      Cidera fisik
Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan akibat terganggunya saraf VIII (Vestibularis), sehingga pasien tidak mampu mempertahankan diri untuk tetap berdiri dan berjalan.
2.      Kelemahan otot
Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan aktivitas. Mereka lebih sering untuk berbaring atau tiduran, sehingga berbaring yang terlalu lama dan gerak yang terbatas dapat menyebabkan kelemahan otot.
E.     Patofisiologi dan Pathway
Vertigo disebabkan dari berbagai hal antara lain dari otologi seperti meniere, parese N VIII, otitis media. Dari berbagai jenis penyakit yang terjadi pada telinga tersebut menimbulkan gangguan keseimbangan pada saraf ke VIII, dapat terjadi karena penyebaran bakteri maupun virus (otitis media). 
 
Selain dari segi otologi, vertigo juga disebabkan karena neurologik. Seperti gangguan visus, multiple sklerosis, gangguan serebelum, dan penyakit neurologik lainnya. Selain saraf ke VIII yang terganggu, vertigo juga diakibatkan oleh terganggunya saraf III, IV, dan VI yang menyebabkan terganggunya penglihatan sehingga mata menjadi kabur dan menyebabkan sempoyongan jika berjalan dan merespon saraf ke VIII dalam mempertahankan keseimbangan.
Hipertensi dan tekanan darah yang tidak stabil (tekanan darah naik turun). Tekanan yang tinggi diteruskan hingga ke pembuluh darah di telinga, akibatnya fungsi telinga akan keseimbangan terganggudan menimbulkan vertigo. Begitupula dengan tekanan darah yang rendah dapat mengurangi pasokan darah ke pembuluh darah di telinga sehingga dapat menyebabkan parese N VIII.
Psikiatrik meliputi depresi, fobia, ansietas, psikosomatis yang dapat mempengaruhi tekanan darah pada seseorang. Sehingga menimbulkan tekanan darah naik turun dan dapat menimbulkan vertigo dengan perjalanannya seperti diatas. Selain itu faktor fisiologi juga dapat menimbulkan gangguan keseimbangan. Karena persepsi seseorang berbeda-beda.
F.     Pemeriksaan Penunjang
Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk pemeriksaan diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:
1. Pemeriksaan fisik
a)      Pemeriksaan mata
b)      Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c)      Pemeriksaan neurologik
d)     Pemeriksaan otologik
e)       Pemeriksaan fisik umum
2. Pemeriksaan khusus
a)      ENG
b)       Audiometri dan BAEP
c)      Psikiatrik
3.      Pemeriksaan tambahan
a)      Radiologik dan Imaging
b)      EEG, EMG
G.    Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanaan Medis
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan seperti :
a)      Anti kolinergik
t  Sulfas Atropin : 0,4 mg/im
t  Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam
b)      Simpatomimetika
t  Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit
c)      Menghambat aktivitas nukleus vestibuler
t  Golongan antihistamin
      Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus vestibularis adalah :
                                                                                i.            Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam
                                                                              ii.            Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.                 
Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah. Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) Terdiri dari :  
a)      Terapi kausal
b)      Terapi simtomatik
c)      Terapi rehabilitatif
2.      Penatalaksanaan Keperawatan
a)      Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus dibiarkan berbaring diam dalam kamar gelap selama 1-2 hari pertama.
b)      Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan mengurangi perasaan subyektif vertigo pada pasien dengan gangguan vestibular perifer, misalnya neuronitis vestibularis. Pasien dapat merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan mata pada suatu obyek yang dekat, misalnya sebuah gambar atau jari yang direntangkan ke depan, temyata lebih enak daripada berbaring dengan kedua mata ditutup.
c)      Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat memudahkan terjadinya ver­tigo, maka rasa tidak enak dapat diperkecil dengan relaksasi mental disertai fiksasi visual yang kuat.
d)     Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan untuk mencegah dehidrasi.
e)      Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan vestibular perifer akut yang belum dapat memperoleh perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua. Pasien merasa sakit berat dan sangat takut mendapat serangan berikutnya. Sisi penting dari terapi pada kondisi ini adalah pernyataan yang meyakinkan pasien bahwa neuronitis vestibularis dan sebagian besar gangguan vestibular akut lainnya adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus menjelaskan bahwa kemampuan otak untuk beradaptasi akan membuat vertigo menghilang setelah beberapa hari.
f)       Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala akut mereda. Latihan ini untuk rnemperkuat mekanisme kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan vestibu­lar akut. (http://niarahayu9.blogspot.com)
 
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian data keperawatan
a)       Aktivitas / Istirahat
Letih, lemah, malaise, keterbatasan gerak, ketegangan mata, kesulitan membaca, insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala, sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
b)       Sirkulasi
Riwayat hypertensi, denyutan vaskuler, misal daerah temporal, pucat, wajah tampak kemerahan
c)      Integritas Ego
Faktor faktor stress emosional/lingkungan tertentu, perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi, kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala, mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
d)      Makanan dan cairan
Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain), mual/muntah, anoreksia (selama nyeri), penurunan berat badan
e)      Neurosensoris
Pening, disorientasi (selama sakit kepala), riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke, aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus, perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis, parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore, perubahan pada pola bicara/pola pikir, mudah terangsang, peka terhadap stimulus, penurunan refleks tendon dalam, papiledema.
f)        Nyeri/ kenyamanan
Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis, nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah, fokus menyempit, fokus pada diri sendiri, respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah, otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
g)        Keamanan
Riwayat alergi atau reaksi alergi, demam (sakit kepala), gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis, drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
h)       Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit
i)        Penyuluhan/ Pembelajaran
Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga, penggunaan alkohol/obat lain termasuk kafein, kontrasepsi oral/hormone, menopause.
2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Resiko jatuh b.d kerusakan keseimbangan (N. VIII)
b.      Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
c.       Resiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
d.      Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
e.       Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat
3.      Intervensi Keperawatan
a)      Resiko jatuh b.d Kerusakan keseimbangan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah risiko jatuh dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1)      Klien dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya
2)      Klien dapat mengantisipasi resiko terjadinya jatuh
Intervensi
Rasional
1.      Kaji tingkat energi yang dimiliki klien
2.      Berikan terapi ringan untuk mempertahankan kesimbangan
3.      Ajarkan penggunaan alat-alat alternatif dan atau alat-alat bantu untuk aktivitas klien.
4.       Berikan pengobatan nyeri (pusing) sebelum aktivitas
1.      Energi yang besar dapat memberikan keseimbangan pada tubuh saat istirahat
2.      Salah satu terapi ringan adalah menggerakan bola mata, jika sudah terbiasa dilakukan, pusing akan berkurang.
3.      Mengantisipasi dan meminimalkan resiko jatuh.
4.      Nyeri yang berkurang dapat meminimalisasi terjadinya jatuh.
b)      Intoleransi aktivitas b.d tirah baring
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi aktivitas dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1)      Meyadari keterbatasan energi
2)      Klien dapat termotivasi dalam melakukan aktivitas
3)      Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat
4)      Tingkat daya tahan adekuat untuk beraktivitas
Intervensi
Rasional
1.      Kaji respon emosi, sosial, dan spiritual terhadap aktivitas
2.      Berikan motivasi pada klien untuk melakukan aktivitas
3.      Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah kelelahan.
4.      Kolaborasi dengan ahli terapi okupasi
1.      Respon emosi, sosial, dan spiritual mempengaruhi kehendak klien dalam melakukan aktivitas
2.      Klien dapat bersemangat untuk melakukan aktivitas
3.      Energi yang tidak stabil dapat menghambat dalam melakukan aktivitas, sehingga perlu dilakukan manajemen waktu
4.      Terapi okupasi dapat menentukan tindakan alternatif dalam melakukan aktivitas.
c)      Risiko kurang nutrisi b.d tidak adekuatnya input makanan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah kurang nutrisi dapat sedikit teratasi.
Kriteria Hasil :
1)      Klien tidak merasa mual muntah
2)      Nafsu makan meningkat
3)      BB stabil atau bertahan
Intervensi
Rasional
1.      Kaji kebiasaan makan yang disukai klien
2.      Pantau input dan output pada klien
3.      Ajarkan untuk makan sedikit tapi sering
4.      Kolaborasi dengan ahli gizi
1.      Kebiasaan makan yang disukai dapat meningkatkan nafsu makan
2.      Untuk memantau status nutrisi pada klien
3.      Mempertahankan status nutisi pada klien agar dapat meningkat atau stabil.
4.      Ahli gizi dapat menentukan makanan yang tepat untuk meningkatkan kebutuhan nutrisi pada klien.
d)     Gangguan persepsi pendengaran b.d tinitus
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam maslah gangguan perepsi sensori pendengaran dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1)      Klien dapat memfokuskan pendengaran
2)      Tidak terjadi tinitus yang berkelanjutan
3)      Pendengaran adekuat
Intervensi
Rasional
1.      Kaji tingkat pendengaran pada klien
2.      Lakukan tes rinne, weber, atau swabah untuk mengetahui keseimbangan pendengaran saat terjadi tinitus
3.      Ajarkan untuk memfokuskan pendengaran saat terjadi tinitus
4.      Kolaborasi penggunaan alat bantu pendengaran
1.      Mengetahui tingkat kemaksimalan pendengaran pada klien untuk menentukan terapi yang tepat. 
2.      Mengetahui keabnormalan yang terjadi akibat tinitus
3.      Mempertahankan keadekuatan pendengaran
4.      Memaksimalkan pendengaran pada klien
e)      Koping individu tidak efektif b.d metode koping tidak adekuat
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah koping individu tidak efektif dapat teratsi.
Kriteria Hasil :
1)      Klien dapat menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan pendengaran
2)      Klien dapat mengatasi dengan tindakan mandiri
Intervensi
Rasional
1.      Kaji kemampuan klien dalam mempertahankan keadekuatan pendengaran
2.      Berikan motivasi dalam menerima keadaan fisiknya
3.      Ajarkan cara mengatasi masalah pendengaran akibat pusing yang diderita
4.      Kolaborasi pemberian antidepresan sedatif, neurotonik, atau transquilizer serta vitamin dan mineral.
1.      Mengetahui batas maksimal kemampuan pendengaran klien
2.      Klien tidak mengalami depresi akibat keadaan fisiknya
3.      Pusing yang terjadi dapat memunculkan tinitus
4.      Obat untuk mengatasi tinitus.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad soepardi, efiaty dan Nurbaiti.2002. Buku ajar ilmu kesehatan telingahidung tenggorok kepala leher edisi ke lima. Jakarta : Gaya Baru 
Lumban Tobing. S.M, 2003, Vertigo Tujuh Keliling, Jakarta : FK UI
Rahayu, Nira.2011. Neuronitis Vestibular. diakses pada 22 oktober 2012.Pukul 23.50 WIB
Santosa, Budi.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.Alih bahasa.Jakarta : Prima Medika
Wilkinson, Judith M.2007.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC

Sabtu, 02 Mei 2015

Asuhan Keperawatan Kanker Lambung



BAB I
PENDAHULUAN


A.        Latar belakang
Di era serba cepat seperti saat ini tidak sulit bagi setiap orang untuk memenuhi keinginannya dalam waktu yang relative singkat. Begitu juga dalam hal memilih makanan, hampir sebagian masyarakat lebih memilih mengkonsumsi makanan cepat saji yang mereka sendiri tidak tahu bahan apa saja yang digunakan untuk mengolah makanan tersebut dibandingkan mengolah bahan makanan sendiri dirumah. Dengan alasan lebih mudah dan efisien. Namun dibalik rasa nikmat yang dirasakan, mereka tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi jika mereka mengkonsumsi makanan tersebut dalam jangka panjang. Berbagai penyakit bisa saja mereka derita akibat mengkonsumsi makanan cepat saji yang menjadi pilihan mereka. Salah satu penyakit yang mungkin timbul akibat mengkonsumsi berbagai makanan cepat saji dalam jangka panjang adalah kanker. Sebagian manusia terkadang mengabaikan suatu gejala penyakit yang timbul dalam dirinya, sehingga penyakit tersebut baru diketahui ketika telah mencapai stadium lanjut. Salah satu contoh kanker akibat kebiasaan buruk ini adalah kanker lambung dimana kanker lambung ini merupakan suatu bentuk neoplasma maligna gastrointestinal. 

B.        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana konsep dasar penyakit Ca Lambung?
2. Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca lambung? 

C.        Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit Ca lambung.
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca lambung.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Pengertian
            Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi di lambung, sebagian besar adalalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah lelomiosarkoma ( kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun ( Osteen, 2003). Kanker lambungpada pria merupakan keganasan terbanyak ketiga setelah kanker paru dan kanker kolorektal, sedangkan pada wanita merupakan peringkat keempat setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kenker kolorektal ( Christin, 1999).
            Secara umum kanker lambung lebih sering terjadi pada laki-laki dengan perbandingan 2:1 pada kanker kardia lambung, insidensi pada laki-laki tujuh kali lebih banyak dari wanita. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia 50-70 tahun sekitar 5% oasien kanker lambung berusia kurang dari 30 tahun dan 1% kurang dari 30 tahun (Neugut, 1996).

B.     Prognosis dan Stadium
            Prognosis kanker lambung disesuaikan dengan stadiumnya. Penilaian untuk menentukan stadium kanker lambung dilakukan dengan menggunakan sistem TNM yang telah disepakati (Hassan,2009). Tabel 6.2 menggambarkan stadium patologis dari kanker lambung dengan menggunakan penilaian sistem TNM.

Stadium kanker lambung dengan mengunakan sistem TNM.
Tumor Primer
(T)
Kelenjar Getah Bening (KGB)
Regional (N)
Metastasis Jauh
(M)
Tis
Carcinoma in situ tumor intraepitel
N0
Kelenjar getah bening regional tidak terlibat.  
M0
Tidak ada metastasis jauh.
T1
Ekstensi tumor ke submukosa
N1
Metastasis pada 1-6 nodus limfe regional.
M1
Ada metastasis jauh.
T2
Ekstensi tumor ke propia muscular dan serosa.
N2
Metastasis pada lobus 7-15 nodus limfe regional.

T3
Penetrasi ke serosa
N3
Metastasis pada >15 nodus limfe regional.
T4
Invasi ke struktur sekitar.


Pengelompokan stadium dan prediksi bertahan hidup.
Stadium
TNM
Bertahan hidup setelah 5 tahun
Stadium 1
T1
N0
M0
85%
Stadium II
T1
N2
M0
65%
T2
N1
M0
T3
N0
M0
Stadium IIIa
T2
N2
M0
35%
T3
N1
M0
T4
N0
M0
Stadium IIIb
T3
N2
M0
35%
Stadium IV
T4
N 1-3
M0
5%
Setiap T
N3
M0
Setiap T
Setiap N
M1

C.    Etiologi dan Patogenesis
            Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung, meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.  Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap, atau yang diawetkan. Beberapa studi menjelaskan intake diet dari makanan yang diasinkan menjadi faktor utama peningkatan kanker lambung. Kandungan garam yang masuk ke dalam lambung akn memperlambat pengosongan lambung sehingga memfasilitasi konversi golongan nitrat menjadi carcinogenic nitrosamines di dalam lambung. Gabungan kondisi terlambatnya pengosongan asam lambung dan peningkatan komposisi nitrosamines di dalam lambung memberikan konstribusi terbentuknya kanker lambung (Yarbro,2005).
2. Infeksi H.pylori adalah bakteri penyebab lebih dari 90% ulkus doudenum dan 80% tukak lambung (Fuccio,2007). Bakteri ini menempel di permukaan dalam tukak lambung melalui interaksi antara membran bakteri lektin dan oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel lambung (Fuccio, 2009). Mekanisme utama bakteri ini dalam menginisiasi pembentukan luka adalah melalui produksi racun VacA. Racun VacA bekerja dalam menghancurkan keutuhan sel-sel tepi lambung melalui berbagai cara; di antaranya melalui pengubahan fungsi endolisosom, peningkatan permeabilitas sel, pembentukan pori dalam membran plasma, atau apoptosis (pengaktifan bunuh diri sel). Pada beberapa individu, H. pyLori juga menginfeksi bagian badan lambug. Bila kondisi ini sering terjadi, maka akan menghasilkan peradangan yang lebih luas yang tidak hanya mempengaruhi ulkus di daerah badan lambung, tetapi juga meningkatkan risiko kanker lambung. Peradangan di lendir lambung juga merupakan faktor risiko tipe khusus tumor limfa (lymphatic neoplasm) di lambung, atau disebut dengan limfoma MALT (Mucosa Associated Lymphoid Tissue). Infeksi H. pylori berperan penting dalam menjaga kelangsungan tumor dengan menyebabkan dinding atrofi dan perubahan metaplastik pada dinding lambung (Santacroce,2008).
3. Sosioekonomi.
Kondisi sosioekonomi yang rendah dilaporkan meningkatkan risiko kanker lambung, namun tidak spesifik. Menurut hadil penelitian di Amerika Serikat, kondisi sosioekonomi yang rendah dihubungkan dengan faktor-faktor asupan diet, kondisi lingkungan miskin dengan sanitasi buruk. Berbagai kondisi tersebut memfasilitasi transmisi infeksi H. pylori yang menjadi predisposisi penting peningkatan terjadinya kanker lambug (Yarbro, 2005).
4. Menginsumsi rokok dan alkohol.
Pasien dengan konsumsi rokok lebih dari 30 batang sehari dan dikimbinasi dengan konsumsi alkohol kronik akan meningkat risiko kanker lambung (Gonzalez, 2003).
5. NSAIDs.
 Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang mengonsumsi NSAIDs dalam jangka waktu yang lama dan hal ini ( polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung. Kondisi polip lambung berulang akan meningkatkan risiko kanker lambung ( Houghton, 2006).
6. Faktor genetik.
 Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki hubunga genetik. Walaupun masih belum sepenuhnya dipahami, tetepi adanya mutasi dari gen E-cadherin terdeteksi pada 50% tipe kanker lambung. Adaya riwayat keluarga amenia pernisosa dan polip adenomatus juga dihunbungkan dengan kondisi genetik pada kanker lambung ( Bresciani, 2003).
7. Anemia Pernisiosa.
Kondisi ini nerupakan penyakit kronis dengan kegagalan absorpsi kobalamin ( vitamin B12), disebabkan oleh kurangnya faktor instrinsik sekresi lambung. Kombinasi anemia pernisiosa dengan infeksi H.pylori memberikan konstribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada dinding lambung (Santacroce, 2008).
 
D.    Patofisiologi
            Sekitar 95% kanker lambung adalah jenis adenokarsinoma, dan 5%- nya bisa berupa limfoma, leimiosarkoma, karsinoid, atau sarkoma. Menurut Fuccio. 2009, adenokarsinoma lambung terdiri atas dua tipe, yaitu tipe intestinal ( tipe struktur glandular) dan tipe difus ( tipe infiltratif pada dinding lambung).
            Dengan adanya kanker lambung, lesi tersebut akan menginvasi muskulatis propia dan akan melakukan metastasis pada kelenjar getah bening regiaonal. Lesi pada kanker lambung memberikan berbagai macam keluhan yang timbul, gangguan dapat diradakan pada pasien biasanya jika sudah pada fase orogesif, dimana berbagai kondisi akan muncul seperti dispepsia, anoreksis, penurunnan BB , nyeri abdomen, konstipasi, anemia, mual serta muntah. Kondisi ini akan memberikan berbagai masalah keperawatan.

E.        Klasifikasi Kanker Lambung
Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini). Berdasarkan hasil pemeriksaan radiolog dapat dibagi atas:
1.    Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.
2.    Tipe II (superficial type)
Dapat dibagi atas 3 sub tipe.
a.       Tipe II.a. (Elevated type)
Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung.Hampir seperti tipe I, terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar.
b.      Tipe II.b. (Flat type)
Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya terlihat perubahan pada warna mukosa.
c.       Tipe II.c. (Depressed type)
Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata (iregular) hiperemik / perdarahan.
3.    Tipe III. (Excavated type)
Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai kombinasi seperti tipe II c dan tipe III atau tipe III dan tipe II c, dan tipe II a dan tipe II c.

Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut). Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas :
1.      Bormann I.
Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular.
2.      Bormann II
Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular.Dasar ulkus terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan, keabuan dan merah kehitaman.Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik.


3.      Bormann III.
Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.
4.      Bormann IV
Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

F.         Manifestasi klinis Kanker Lambung
Gejala awal dari kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan tumor ini dikurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan ganguan fungsi lambung.Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang hilang dengan antasida dapat menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna.Gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia, dyspepsia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia dan mual serta muntah (Harnawati, 200, KMB).
Gejala klinis yang ditemui antara lain(Davey, 2005):
a.    Anemia, perdarahan samar saluran pencernaan dan mengakibakan defisiensi Fe mungkin merupakan keluhan utama karsinoma gaster yang paling umum.
b.    Penurunan berat badan, sering dijumpai dan menggambarkan penyakit metastasis lanjut.
c.    Muntah, merupakan indikasi akan terjadinya (impending) obstruksi aliran keluar lambung.
d.   Disfagia
e.    Nausea
f.     Kelemahan
g.    Hematemesis
h.    Regurgitasi
i.      Mudah kenyang
j.      Asites perut membesar
k.    Kram abdomen
l.      Darah yang nyata atau samar dalam tinja
m.  Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan

G.     Gambaran Klinis Kanker Lambung
Gejalanya samar dan telah ada selama beberapa bulan.
Meliputi :
1.      Tidak dapat mencerna
2.      Ketidaknyamanan epigastrik
3.      Ras penuh setelah makan
4.      Nyeri punggung
5.      Muntah setelah makan
6.      Cepat kenyang
7.      Malaise
8.      Kehilangan nafsu makan
9.      Disfagia
10.  Hematemesis

H.     Pemeriksaan Diagnostik
            Dengan bubur barium, akan terdapat gambaran yang khas pada sebagian besar kasus, dimana akan terlihat tumor dengan permukaan yang erosive dan kasar pada bagian lambung.
            CT Scan. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai evaluasi praoperatif dan untuk melihat stadium dengan system TNM dan penyebaran ekstra lambung, yang penting untuk penentuan intervensi bedah radikal dan pemberian informasi prabedah pada pada pasien.
            Endoskopi dan Biopsi
Pemeriksaan Endoskopi dan Biopsi sangat penting untuk mendiagnosa karsinoma lambung terutama untuk membedakan antara karsinoma epidermal dan karsinoma lambung.
Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan sitologi pada gaster dilakukan melalui sitologi brushing. Pada keadaan normal, tampak kelompok sel-sel epitel superfisial yang reguler memben       tuk gambaran seperti honey comb. Sel-sel ini mempunyai inti yang bulat dengan kromatin inti yang tersebar merata(Lumongga, 2008).
Pada keadaan gastritis, sel tampak lebih kuboidal dengan sitoplasma yang sedikit dan inti sedikit membesar.Pada karsinoma, sel-sel menjadi tersebar ataupun sedikit berkelompok yang irreguler, inti sel membesarn hiperkromatin dan mempunyai anak inti yang multipel atau pun giant nukleus (Lumongga, 2008).
Pemeriksaan sitologi brushing ini jika dilakukan dengan benar, mempunyai nilai keakuratan sampai 85% tetapi bila pemeriksaan ini dilanjutkan dengan biopsi lambung maka nilai keakuratannya dapat mencapai 96% (Lumongga, 2008).
Pemeriksaan makroskopis
Secara makroskopis ukuran karsinoma dini pada lambung ini terbagi atas dua golongan, yaitu tumor dengan ukuran < 5 mm, disebut denganminute dan tumor dengan ukuran 6 – 10 mm disebut dengan small(Lumongga, 2008).
Lokasi tumor pada karsinoma lambung ini adalah pylorus dan antrum (50-60%), curvatura minor (40%), cardia (25%), curvatura mayor (12%).Paling banyak terjadi karsinoma lambung pada daerah daerah curvatura minor bagian antropyloric (Lumongga, 2008).
Pemeriksaan laboratorium (Hamsafir, 2010)
Anemia (30%) dan tes darah positif pada feses dapat ditemukan akibat perlukaan pada dinding lambung.LED meningkat.Fractional test meal à ada aklorhidria pada 2/3 kasus kanker lambung.Elektrolit darah dan tes fungsi hati àkemungkinan metastase ke hati.

I.           Komplikasi Kanker Lambung
a.    Perforasi
Dapat terjadi perforasi akuta dan perforasi kronika
1.      Perforasi akut
AIRD 1935 menjumpai 35 penderita demean perforasi akut yang terbuka dari karsinoma ventrikuli. Yang sering terjadi perfirasi yaitu: tipe ulserasi dari kanker yang letaknya di kurvatura minor, diantrium dekat pylorus. Biasanya mempunyai gejala-gejala yang mirip demean perforasi dari ulkus peptikum. Perforasi ini sering dijumpai pada pria (Hadi, 2002).
2.      Perforasi kronika
Perforasi yang terjadi sering tertutup oleh jaringan didekatnya, misalnya oleh omentum atau bersifat penetrasi.Biasanya lebih jarang dijumpai jika dibandingkan dengan komplikasi dari ulkus benigna.Penetrasi mungkin dijumpai antara lapisan omentun gastrohepatik atau dilapisan bawah dari hati.Yang sering terjadi yaitu perforasi dan tertutup oleh pancreas. Dengan terjadinya penetrasi maka akan terbentuk suatu fistul, misalnya gastrohepatik, gastroenterik dan gastrokolik fistula (Hadi, 2002).

b.    Hematemesis
Hematemesis yang masif dan melena terjadi ± 5 % dari karsinoma ventrikuli yang gejala-gejalanya mirip seperti pada perdarahan massif maka banyak darah yang hilang sehingga timbullah anemia hipokromik(Hadi, 2002).

c.    Obstruksi
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang disertai keluhan muntah-muntah (Hadi, 2002).

d.   Adhesi
Jika tumor mengenai dinding lambung dapat terjadi perlengketan dan infiltrasi dengan organ sekitarnya dan menimbulkan keluhan nyeri perut (Hadi, 2002)

J.         Penatalaksanaan Medis
            Penatalaksanaan medis disesuaikan dengan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor. Intervensi yang lazim dilakukan adalah tindakan endoskopi, kemoterapi, radioterapi, dan intervensi bedah.
            Pada polip lambung jinak, diangkat dengan menggunakan endoskopi. Bila karsinoma ditemukan di lambung, pembedahan biasanya dilakukan untuk mencoba menyembuhkannya. Sebagian besar atau semua lambung di angkat (gastrektomi) dan kelenjar getah bening di dekatnya juga ikut diangkat. Bila karsinoma telah menyebar diluar lambung, tujuan pengobatan yang dilakukan adalah untuk mengurangi gejala dan memperpanjang harapan hidup pasien. Kemoterapi dan terapi penyinaran bisa meringankan gejala. Didapatkan hasil kemoterapi dan terapi penyinaran pada limfoma lebih baik pada karsinoma. Beberapa pasien dengan tingkat toleransi yang lebih baik akan bertahan hidup lebih lama bahkan bisa sembuh total.

  
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN


A.    Pengkajian
            Pengkajian akan didapatkan sesuai stadium kanker lambung. Keluhan anoreksia terjadi pada hampir semua pasien yang mengalami kanker lambung. Keluhan gastrilointestinal yang lazim biasanya adalah nyeri epigastrium, berat badan menurun dengan cepat, melena,dan anemia; pada kondisi ini biasanya sudah ada metastasis dalam kelenjar getah bening, regional, paru, otak, tulang,dan ovarium.
            Pada pengkajian riwayat penyakit, penting diketahui adanya penyakit yang pernah diderita seperti ulkus peeptikum atau gastritis kronis yang disebabkan oleh infeksi. H.pylori. pengkajian pengkajian perilaku/ kebiasaan yang mendukung peningkatan risiko penyakit ini, seperti konsumsi alkohol dan tembakau kronis, konsumsi makanan yang diasinkan ( seperti daging bakar atau ikan asin). Perawat juga mengkaji terdapatnya penurunan berat badan selama ada riwayat penyakit tersebut.
            Pengkajian psikososial biasanya didapatkan adanya kecemasan berat setelah pasen mendapat informasi mengenai kondisi kanker lambung. Perawat juga mengkaji pengetahuan pasien tentang program pengobatan kanker; meliputi radiasi, kemoterapi,dan pembedahan gastrektomi. Pengkajian tersebut memberikan inofomasi untuk merencanakan tindakan yang sesuai dengan kondisi pasien.
            Walaupun pemeriksaan fisik tidak banyak membantu untuk menegakkan diagnosis, tetapi pada pemeriksaan gastointestinal akan didapatka adanya anoreksia, penurunan berat badan,pasien terlihat kurus.
            Pengkajian diagnostik yang diperlukan untuk kanker lambung adalah pemeriksaan radiografi, endoskopi biopsi, sitologi, dan laboratorium klinik.
  
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Aktual/ risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan kemampuan batuk menurun, nyeri pasca bedah.
Aktual/risiko ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. kemampuan batuk menuru, nyeri pasca bedah.
Tujuan : dalam waktu 2x24 jam pembedahan gastrektomi, kebersihan jalan napas pasien tetap optimal.
Kriteria evaluasi :
1.      Jalan napas bersih, tidak ada akumulasi darah pada jalan napas.
2.      Suara napas normal, tidak ada bunyi napas tambahan seperti stridor.
3.      Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan.
4.      RR dalam batas optimal 12-20 x/menit.
Intervensi
Rasional
Kaji dan monitor jalan napas.
Deteksi awal untuk interpretasi intervensi selanjutnya. Salah satu cara untuk mengetahui apakan pasien bernapas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan di atas hidung dan mulut pasien, untuk marasan hembusan napas. Gerak toraks dan diafragma tidak selalu menandakan pasien bernapas. 
Beri oksigen 3 liter/ menit.
Pemberian oksigen dilakukan pada fase awal pascabedah. Pemenuhan oksigen dapat  membantu meningkatksn PaO2 di cairan otak, yang akan memengaruhi pengaturan pernapasa.
Instruksikan pasien untuk napas dan melakukan batuk efektif.
Pada pasien pascabedah dengan tingkat toleransi yang baik, pernapasan diafrgma dapat meningkatkan ekspansi paru. Berbagai tindakan dilskuksn untuk memperbesar ekspansi dada dan pertukaran gas.
Sebagai contoh, minta pasien untuk menguap atau melakukan inspirasi maksimal.
Batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mucus. Bantu pasien mengatasi ketakutannya bahwa ekskresi  dari batuk dapat menyebabkan insisi bedah akan terbuka.
Bersihkan secret pada jalan napas dan lakukan suctioning apabilan kemampuan mengevakuasi tidak efektif.
Kesulitan bernapas dapat terjadi akibat secret lender yang berlebihan. Mengganti posisi pasien dari satu sisi ke sisi lainnya memungkinkan cairan yang terkumpul untuk keluar adri sisi mulut. Jika gigi pasien menutup, mulut dapat dibuka hati-hati secara manual dengan spatel lidah yang di bungkus kassa.
Mucus yang menyumbat atau trakea dihisap dengan ujung pengisap faringeal atau kateter nasal yang dimasukkan ke dalam nasofaring atau orofaring.
Evaluasi dan monitor kebersihan intervensi pembersihan jalan napas.
Apabila tingkat toleransi pasien tidak optimal, lakukan kolaborasi dengan tim medic untuk segera dilakukan terapi endoskopi atau pemasangan tamponade balon. 


2.      Aktual/ risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat.
risiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d. intake makanan tidak adekuat
tujuan : setelah 3x24 jam pada pasien non bedah dan setelah 7x24 jam pascabedah asupan nutrisi dapat optimal dilakukan.
Kriteria evaluasi :
1.      Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat.
2.      Terjadi penurunan gejala refluks esophagus, meliputi odinofagia berkurang, RR dalam batas normal 12-20 x/menit.
3.      Berat badan pada hari ketujuh pascabedah meningkat 0,5 kg.
Intervensi
Rasional
Intervensi non bedah :
1.      Anjurkan pasien makan dengan perlahan dan mengunyah makanan dengan seksama.
2.      Evaluasi adanya makanan dan kontraindikasi terhadap makanan.




3.      Sajikan makanan dengan cara yang menarik.
4.      Fasilitasi pasien memperoleh diet biasa yang disukai pasien ( sesuai indikasi).
5.      Pantau intake atau output , anjurkan untuk timbang berat badan secara periodic ( sekali seminggu).
6.      Lakukan dan anjurkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelum dan sesudah intervensi/ pemeriksaan peroral.

1.      Agar makanan dapat lewat dengan mudah ke lambung.
2.      Beberapa pasien mungkin mengatasi alergi terhadap beberapa komponen makanan tertentu dann beberapa penyakit lain, seperti diabetes mellitus, hipertensi, Gout, dan lainnya memberikan manifestasi terhadap persiapan komposisi makanan yang akan diberikan.
3.      Membantu merangsang nafsu makan.

4.      Mempertimbangkan keinginan individu dapat memperbaiki asupan nutrisi.
5.      Berguna mengatur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.

6.      Menurunkan rasa tidak enak karena adanya sisa makanan atau bau obat yang dapat merangsang pusat muntah.
Intervensi pascabedah :
1.      Kaji kondisi dan toleransi gastrointestinal pascagastrektomi.



2.      Lakukan perawatan mulit.

3.      Masukkan 10-20 ml cairan sodium klorida setiap sif melalui selang nasogastrik.


4.      Berikan nurtisi cair melalui selang nasogastrik atau atas instruksi medis.



5.      Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai jenis nutrisi yang akan digunakan pasien.


6.      Hindari makan 3 jam sebelum tidur.

1.      Parameter penting adalah dengan melakukan auskultasi bising usus. Apabila didapatkan bising usus artinya fungsi gastrointestinal sudah pulih setelah anestesi umum.
2.      Intervensi ini untuk menurunkan risiko infeksi oral.
3.      Pembersihan ini selain untuk enjaga kepatenan selang nasogastrik juga untuk meningkatkan penyembuhan pada area pascagastrektomi.
4.      Pemberian nutrisi cair dilakukan untuk memenuhi asupan nutrisi melelui gastrointestinal. Pemberian nutrisi melalui nasogastrik harus dikolaborasikan dengan tim medis yang merawat pasien.
5.      Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan komposisi dan jenis makanan yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan individu.
6.      Intervensi untuk mencegah terjadinya refluks.

3.      Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa esophagus, respons pembedahan.
Nyeri b.d. iritasi mukosa lambung, respons pembedahan.
Tujuan : dalam waktu 7 x 24 jam pascabedah, nyeri berkurang atau teradaptasi.
Kriteria evaluasi :
1.      Secara subjektif mengatakan nyeri berkurang atau teradaptasi.
2.      Skala nyeri 0-2 ( dari skala 0-4).
3.      TTV dalam batas normal, wajah terlihat rileks.  
Intervensi
Rasional
Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasive.
Pendekatan dengan mengunakan relaksasi dan terapi nonfarmakologi telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. 
Lakukan manajemen nyeri.
1.      Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST.







2.      Istirahatkan pasien pada saat nyeri muncul.


3.      Anjurkan teknik relaksasi napas dalam pada saat nyeri muncul.

4.      Anjurkan teknik distraksi pada saat nyeri.

5.      Rawat pasien diruang intensif.









6.      Lakukan manajemen sentuhan.


1.      Pendekatan PQRST dapat secara komprehensif menggali kondisi nyeri pasien. Apabila pasien mengalami skala nyeri 3 ( dari skala 0-4) ini merupakan peringatan yang perlu di waspadai karena merupakan manifestasi klinik dari komplikasi pascabedah esofagektomi.
2.      Istirahat, secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk kebutuhan metabolisme basal.
3.      Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia intestinal. 
4.      Distraksi ( pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulasi internal.
5.      Untuk mengontrol nyeri pasien harus dirawat di ruang intensif. Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal. Pembatasan pengunjung membantu meningkatkan kondisi oksigen  ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer.
6.      Manajemen sentuhan pada saat nyeri – berupa sentuhan dukungan psikologis –dapat membantu menurunkan nyeri.
Tingkatkan pengetahuan pasien mengenai sebab-sebab nyeri dan mengembangkan berapa lama nyeri akan berlangsung
Pengetahuan akan membantu mengurangi nyeri dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan pasien terhadap rencana terapi.
Tindakan kolaborasi
Analgetik intravena

Analgetik diberikan untuk membantu menghambat stimulus nyeri ke pusat persepsi nyeri di korteks serebri sehingga nyeri dapat berkurang.

C.    Evaluasi
Kriteria evaluasi yang di harapkan pada pasien kanker lambung setelah mendapat intervensi keperawatan adalah sebagai berikut
1.    Terpenuhinya informasi mengenai pemeriksaan diagnostik, intervensi kemoterapi, radiasi, dan keadaan pembedahan.
2.    Tidak mengalami injuri dan komplikasi pascabedah.
3.    Pasien tidak mengalami penurunan berat badan.
4.    Terjadi penurunan respons nyeri.
5.    Tidak terjadi infeksi pascabedah.
6.    Kecemasan pasien berkurang. 

BAB IV
PENUTUP
a.         Kesimpulan
Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi di lambung, sebagian besar adalalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah lelomiosarkoma ( kanker otot polos) dan limfoma. Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25% kanker tertentu terjadi pada orang di bawah usia 50 tahun ( Osteen, 2003).
Prognosis dan Stadium :
                 Prognosis kanker lambung disesuaikan dengan stadiumnya. Penilaian untuk menentukan stadium kanker lambung dilakukan dengan menggunakan sistem TNM yang telah disepakati (Hassan,2009).
Etiologi dan faktor resiko:
Konsumsi tinggi makanan yang di asinkan dan diasap atau makanan terkontaminasi dengan aflatoksin telah dikaitkan dengan peningkatan insiden kanker lambung. Factor resiko pekerjaan juga dikaitkan dengan insiden yang lebih tinggi pada kanker lambung. Pekerja pada tambang batu bara, pabrik, perkebunan, pemprosesan karet, kayu, dan asbes semua telah menunjukkan insiden lebih tinngi dari normal.

b.       Saran
Makalah yang telah disusun ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu diharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi sempurnanya makalah ini. Terima kasih.